Mengurai Radikalisme Baru di Ruang Digital: Ketika Ujaran Kebencian Kehilangan Hujjah dan Burhan


 

Mengurai Radikalisme Baru di Ruang Digital: Ketika Ujaran Kebencian Kehilangan Hujjah dan Burhan

https://kritikbijakvspidana.blogspot.com/2026/06/mengurai-radikalisme-baru-di-ruang.html?m=1



Dunia siber hari ini telah menjadi medan tempur ideologi yang sangat cair. Jika dahulu radikalisme sering kali diidentikkan dengan fanatisme buta terhadap suatu doktrin kelompok, hari ini kita menyaksikan anomali yang tidak kalah berbahaya: ekstremisme ideologis berbentuk anti-agama yang radikal. Fenomena ini memanifestasikan diri dalam bentuk ujaran kebencian, penistaan, serta celaan vulgar terhadap Allah, para nabi, dan ajaran agama, yang berselancar bebas di media sosial tanpa menyertakan hujjah (argumen rasional) maupun burhan (bukti ilmiah yang nyata).

Mengapa perilaku digital yang destruktif ini dikategorikan sebagai bagian dari radikalisme? Dan bagaimana ruang digital memperparah hilangnya tradisi berpikir ilmiah ini?

1. Defisit Hujjah dan Burhan: Nihilisme Intelektual dalam Radikalisme Baru

Radikalisme pada hakikatnya bukan sekadar urusan makar politik, melainkan sebuah cara berpikir ekstrem yang menolak total ruang dialog dan hak eksistensi kelompok lain. Dalam tradisi intelektual Islam maupun standar akademis sekuler, sebuah kritik—bahkan terhadap agama sekalipun—harus diuji melalui metodologi yang ketat dan jujur. Al-Qur'an sendiri menantang para pengkritiknya untuk membawa bukti nyata:

قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝١١١

"Katakanlah (Muhammad), 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu (burhan) jika kamu orang yang benar'.” (QS. Al-Baqarah: 111).

Dalam ranah kajian akademis, tuntutan burhan ini sejalan dengan prinsip objektivitas ilmiah yang menuntut keabsahan data. Tentu metodologi ilmiah di sini bukan sekadar sains laboratorium, melainkan kepatuhan pada disiplin logika formal, riset sosiolinguistik, dan kritik historis yang jujur—bukan sekadar menghakimi teks peradaban masa lalu dengan bias kultural internet hari ini (anachronism).

Ketika seseorang di ruang digital menyerang kesucian agama dengan caci maki egoistik, mereka tidak sedang menggunakan nalar rasional yang mereka agung-agungkan. Tanpa hujjah (argumentasi logis) dan burhan (verifikasi ilmiah-historis yang valid), mereka sebenarnya sedang menunjukkan ciri utama dari paparan radikalisme baru: nihilisme intelektual. Mereka tidak sedang mengajak berdiskusi (mujadalah), melainkan melakukan agresi psikologis demi memicu polarisasi.

2. Anatomi Perilaku Digital Kelompok Ekstrem

Seseorang yang terjebak dalam pusaran ekstremisme anti-agama ini biasanya menunjukkan beberapa pola perilaku digital yang spesifik:

A. Reduksionisme, Dekontekstualisasi, dan Memeifikasi Kesucian

Sebagian dari mereka mungkin mencoba mengutip teks-teks keagamaan atau kitab tafsir klasik agar terlihat berbasis data. Namun, kutipan tersebut diperlakukan secara cherry-picking—dipotong secara sepihak dari konteks historisnya (asbabun nuzul) maupun metodologi kritik teks yang utuh. Teks tersebut kemudian direduksi menjadi bahan olokan atau meme sarkastis demi mendegradasi nilai kesucian (profanity) di mata pengikutnya, bukan untuk mencari kebenaran ilmiah.

B. Bahasa Dehumanisasi dan Polarisasi

Mereka menggunakan diksi yang menyerang martabat kemanusiaan para pemeluk agama. Umat beragama sering kali dilabeli dengan sebutan yang merendahkan eksistensi intelegensi mereka. Hal ini sengaja dilakukan untuk menciptakan batas ego yang tegas antara kelompok mereka (yang merasa "paling tercerahkan dan rasional") dan kelompok luar yang dianggap inferior.

C. Sindrom Bias Konfirmasi dalam Echo Chamber

Di platform seperti X, forum Reddit, atau grup Telegram tertutup, algoritma akan mempertemukan mereka dengan orang-orang berpikiran serupa. Mereka saling memvalidasi kebencian dan merayakan bias konfirmasi, sembari menutup mata dari klarifikasi para ulama, pakar otoritatif, maupun metodologi akademis yang objektif.

3. Bahaya Laten di Balik Layar

Mencela Tuhan dan simbol agama di media sosial tanpa dasar metodologi bukan sekadar ekspresi kebebasan berpendapat (freedom of speech), melainkan sebuah tindakan radikal karena dampak sistemik yang ditimbulkannya:

🔸 Merusak Jalinan Sosial: Tindakan ini memicu ketegangan horizontal dan berpotensi melahirkan reaksi ekstrem tandingan (counter-radicalism) yang sama-sama menggunakan cara-cara destruktif.

🔸 Membajak Ruang Dialog yang Sehat: Ketika ruang siber dipenuhi oleh makian dan manipulasi teks, diskusi lintas iman atau sains-teologi yang berbasis data sehat menjadi tenggelam.

🔸 Eskalasi ke Aksi Nyata: Paparan kebencian yang intensif di dunia maya sering kali menjadi bahan bakar bagi tindakan diskriminatif, persekusi, atau gesekan fisik di dunia nyata.

Kesimpulan

Penegasan mengenai pentingnya nalar ilmiah ini tentu berlaku adil secara timbal balik: baik bagi oknum pemeluk agama yang kerap menggunakan teks secara parsial untuk menyerang kelompok lain, maupun bagi kelompok anti-agama yang terjebak dalam bias konfirmasi. Sebab pada hakikatnya, radikalisme tidak memiliki agama tunggal, begitu pula ia tidak selalu berwujud jubah keagamaan.

Ketika seseorang menggunakan ruang digital untuk memuntahkan kebencian, menistakan ajaran agama, dan melepaskan tradisi jujur hujjah serta burhan, mereka telah jatuh ke dalam kubang ekstremisme.

Melawan fenomena ini tidak bisa hanya dengan kemarahan emosional yang justru diinginkan oleh mereka. Perlawanan sejati dilakukan dengan membanjiri ruang digital dengan counter-narrative yang konkret: menyajikan infografis edukatif, menulis utas berbasis data, serta menampilkan keteladanan akhlak digital (digital akhlaq) yang menyejukkan namun kokoh secara argumentasi.


Komentar